Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Thursday, April 20, 2017

Tentangku dan NikmatMu, Puisi Wahyu Eko Handayani

Puisi - Puisi Wahyu Eko Handayani

Tentangku, Hujan dan Kepastian itu... 






















Aku ingin bercerita Tuhan...
Hujan pagi ini...Terasa menyayat hati
Seperti kemarin belum ada kepastian diri ini..
Masih terombang ambing...
Masih mengapung raga ini...

Kulanjutkan kisahku Tuhan...
Meski tetes hujan membasahi bumi..
Ku tetap melangkah demi ibu Pertiwi..
Kutetap berjalan menyusuri kota ini..
Kutetap bertahan untuk kota ini..

Kuteruskan cerita tentang rasaku Tuhan...
Aku tetap bertahan menunggu kepastian dariMu..
Aku tetap berdiri kuat menunggu takdirMu..
Aku tetap menanti yang terbaik dariMu..
Karena ku yakin Engkau telah menyiapkan yang terbaik untukku...
Yang terhebat untukku..
Yang teristimewa untukku...
 


Tentangku dan Penantian ini...

Mentari yang bersinarpun tetap merapat ke peraduannya...
Jinggapun selalu hilang diujung senja...
Bahkan rembulan dan gemintang yang bergelayut manja pun perlahan sirna..

Biduk yg berlabuh pun tetap bersandar di tepian telaga...
Hati yang terluka pun selalu mencari bahagia...
Namun..
Mengapa mentari yang hilang ditelan senja, rembulan dan gemintang yang sirna, biduk yang bersandar di telaga, hati yg bahagia,.....
Tak jua memberi kepastian...
Tak jua memberi keputusan...
Tak jua memberi ketetapan...
...Kapan diriku kan bersandar di dermaga impian....
 




⁠⁠⁠Tentangku dan NikmatMu...

Siang ini langit kelabu...
Mentari pun tampak lesu..
Sang bayu berhembus kelu
Cuacapun tak lagi menentu..
Tuhan....
Sekalipun langit kelabu, mentari pun lesu, bayupun ikut kelu bahkan Cuacapun kian tak menentu...
Ijinkan aku tetap bersyukur padaMu..
Atas nikmatMu..
Sehatnya diriku..
#KarenasebulanakusakitTuhan#
Cinta yang Engkau berikan padaku..
Arjuna yang selalu menemaniku..
#BanyakcaraMumenghadirkancintaTuhan#

Aku ingin jujur padaMu Tuhan...
Hilangkan semua kebimbangan ku
Hapus segala perih luka hatiku
Buang semua yang tak baik untukku..
Jauhkan dari nya yang selalu menggangguku..
Lenyapkan semua yang mengusikku..

Aku masih ingin bercerita Tuhan
Ketika luka ini terbalut bahagia...
Ijinkan aku menjaga semua rasa
Ijinkan aku memupuk asa
Ijinkan aku meramu cinta...
Dan ijinkan aku untuk selalu mengingat kebesaran mu Tuhan

Ini curhatan lainnya Tuhan...
Engkau Maha Tahu apa yang ada di hatiku....
....Kuingin bahagia tanpa jeda, tanpa dia yang memberi luka, tanpa cerita yang tak berirama...
....Kuingin bahagia bersama sang Arjuna... Yang sederhana dalam cinta....

20/04/2017

*) Penyair adalah seorang PNS yang aktif menulis buku parenting dan anggota aktif Jaringan Penulis Kaltara yang tinggal di Tarakan



     Secangkir Inspirasi       



“Segala makna memang datang dari manusia, yang menatap dan mendengar, lantas memberi arti.” --Seno Gumira Ajidarma—



Read More

Friday, February 10, 2017

Hujan Bulan Februari, Seorang Banci Penjambret yang Pingsan di Bawah Terik Matahari, Puisi M Thobroni

Seorang Banci Penjambret yang Pingsan di Bawah Terik Matahari
Puisi M. Thobroni











Seorang lelaki bertubuh kurus kering melaju menerabas gelombang ganas jalanan kota
Rambut kudanya berkibar di antara
Sirine, klakson, dan umpatan tengah siang
Di tangannya yang mungil tergenggam kalung makan siang
Yang direngutnya dari lansia yang sedang menanti ajalnya tiba
Tubuhnya yang gemulai terkapar dihantam dari kiri kanan depan belakang

Ia rebah tepat di bawah telapak kaki Tuhannya
Seorang banci penjambret pingsan di bawah terik siang
Dan langit pun mendung seketika


2017



Hujan Bulan Februari
Hujan Bulan Februari
Selembar daun hijau berparas ungu
Serat-seratnya adalah ketulusan
Dan permukaannya menampung segala duka

Hujan bulan Februari
Merayakan kesunyian di antara dedaunan dan ranting-ranting basah
Hujan bulan Februari
Kupetik selembar daun pisang dan kutangkupkan di atas jiwamu
Agar tidak resah segala gundah


2017

M. Thobroni, adalah penggiat Sastra sekaligus penggerak Jaringan Penulis Kaltara yang berdomisili di Tarakan

Inspirasi Kopi Pagi

“Sudah terlalu banyak kata didunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak merubah apa-apa. Lagipula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa pernah mendengar kata-kata orang lain.” 
--Seno Gumira Ajidarma--, 
Sepotong Senja untuk Pacarku

Read More

Tuesday, February 7, 2017

Rasaku, Puisi Wahyu Eko Handayani

Rasaku....
Puisi Wahyu Eko Handayani


Tuhan...
Bolehkah aku bercerita..,
aku mencintai seseorang.
Apakah aku salah, Tuhan...?!

Kurasa tidak....
Karena aku selalu dibuatnya lupa dengan rasa sakit yang pernah kualami...
Aku selalu dibuatnya tersenyum.
Aku selalu dibuatnya lupa dengan ego yang kumiliki..
Aku selalu dibuatnya lupa dengan perih yang selalu menghampiri..
Aku hanya meminta satu doa saja Tuhan...
Apakah Engkau kan mengabulkannya?
Tolong kabulkan Tuhan...
Aku hanya ingin dia selalu menemaniku disaat...
Bahagia
Sedih
Sunyi
Jatuh
Luka
Sepi
Susah

Emosi dan....
Aku ingin dia selalu ada
Aku selalu ingin dia menutup hatinya dari cinta yang lainnya selain aku...
Terima kasih untuk kamu yang telah ada..
Tanpa ingin menjadi tiada....
....
Engkaulah @rjunaku....

                                                                                 Tarakan, Feb 2017


*) Penyair adalah anggota Jaringan Penulis Kaltara yang tinggal di Tarakan
     Secangkir Inspirasi       

“Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa—suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.”  
--Seno Gumira Ajidarma--, 
Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
Read More

Friday, February 3, 2017

Kabar Untuk Ibu dan Nisan Di Atas Bukit - Puisi Alis Muntono

Kabar Untuk Ibu
Puisi Alis Muntono



Ibu, ini kabar terakhirku
sekujur tubuh telah terluka
tapi tak juga aku berhenti
karena tak aku ingin meratapi
kekalahan demi kekalahan pada setiap peperanganku

Ibu, aku tak bosan terasing sendirian
Bertempur tak berkesudahan
Mendengar genderang musuh terus ditabuh
Meski aku tak mampu lagi ayunkan pedang

Ibu, tak lama lagi aku akan pulang
Nyanyi rindu yang selalu kau lantunkan
mengalahkan suara meriam dan desing peluru memburu

Ibu, aku hanya ingin bersimpuh dipangkuanmu
Larut dalam belaian lembut
Lelap dalam dekapanmu

Biarlah perang tetap berjalan
tanpa aku tahu siapa bertahan
satu saja permintaanku
semoga telah engkau siapkan beberapa lembar kain kafan

Tarakan Akhir April 2009


NISAN DI ATAS BUKIT
 Puisi Alis Muntono


Kau yang membatu di puncak sebuah bukit
Membisu dalam keheningan sepoi angin
Satu demi satu terbuka kembali
Lembaran kusam kisah – kisah masa silam

Aku tahu kehadiranku terlalu menyakitkan
Sebuah janji begitu saja terucapkan
bahkan ketika kau memakiku
saat berkata bahwa batang - batang ilalang di padang gersang itu
telah melecehkan
mempertanyakan kesetian kita pada bumi

Ah...sayang,
waktu tak sempat lagi memberitahu
bahwa kita adalah orang – orang tua
yang tak pernah menjadi dewasa

kau telah pergi tanpa sepucuk pesan

Borneo 13 Mei ’09


      Inspirasi Bekantar     



"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa." – Seno Gumira Ajidarma-- 
Read More